Agent With A Heart

Pernahkah Anda bertemu dengan agen asuransi? Seperti apa agen asuransi ideal yang ada dalam benak Anda? Banyak orang kerap kali memandang sebelah mata profesi ini. Namun jangan salah, sebagian dari mereka memiliki jejak karir yang gemilang dan hidup dalam kemewahan. Jika bicara mengenai pencapaian karir dan hidup mewah seorang agen asuransi, apakah mereka sudah masuk dalam kategori “sukses” sebagai agen asuransi? Jawaban dari pertanyaan ini tergantung dari kacamata mana sudut pandang kita masing-masing.

 

1. Agen Ideal Dilihat dari Kacamata Perusahaan Asuransi

Perusahaan asuransi memandang agen asuransi yang ideal adalah agen yang hebat dalam melakukan penjualan. Perusahaan Asuransi tidak peduli bagaimana pelayanan agen tersebut kepada nasabah, tidak peduli bagaimana cara sang agen melontarkan janji-janji manis kepada calon nasabah, dan apakah sang agen dapat menepati janjinya atau tidak.

Baca juga : Kisah Nyata Derita Korban Allianz

Tidak peduli bagaimana caranya sang agen tersebut harus bisa membawa profit bagi perusahaan dengan menjual sebanyak-banyaknya produk kepada sebanyak-banyaknya nasabah. Meskipun si agen adalah agen yang peduli hingga sibuk membantu nasabah, namun jika si agen tidak pandai berjualan, maka tidak ada gunanya bagi perusahaan asuransi dan pada akhirnya akan di demosi atau terminasi. Jadi kriterianya bukan pintar, baik hati dan peduli, tetapi yang paling penting adalah PENJUALAN atau SALES.

 

2. Agen Ideal Dilihat dari Kacamata Agen Asuransi

Abraham Maslow dalam teorinya menjelaskan bahwa manusia memiliki 5 tingkatan kebutuhan yang harus dipenuhi. Yang pertama yaitu kebutuhan dasar seperti  kebutuhan akan makanan, minuman, bernafas, dan kebutuhan fisiologis lainnya. Yang kedua yaitu kebutuhan akan rasa aman misalnya memiliki rumah. Jika kebutuhan-kebutuhan tersebut sudah terpenuhi maka berlanjut ke kebutuhan berikutnya yaitu kasih sayang, rasa percaya diri dan aktualisasi diri.  

Berdasarkan kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut, maka manusia khususnya dalam hal ini orang-orang yang berprofesi sebagai agen ketika bekerja pasti juga akan mengejar agar dapat memenuhi semua kebutuhannya. Dimulai dari mengejar komisi semaksimal mungkin untuk dapat memenuhi penghidupan sehari-hari, sampai kepada mengejar kebutuhan rasa percaya diri dan aktualisasi diri. Kemudian mengejar “pengakuan” dan gelar untuk naik jabatan dari agen biasa ke Agency Manager, lalu Agency Director, atau masuk ke grup elit MDRT (Million Dollar Round Table) atas prestasi penjualan yang fantastis, yang semuanya itu dilakukan untuk mengejar penghargaan yang membangun “pride” masing-masing agen.

Maka dari kacamata agen yang terpenting adalah komisi, jabatan tinggi dan penghargaan. 

 

3. Agen Ideal Dilihat dari Kacamata Nasabah sebagai Konsumen

Berbeda dari definisi agen ideal berdasarkan 2 poin sebelumnya,  nasabah sebagai konsumen tidak akan peduli apakah agen asuransi ini pandai berjualan, seberapa kaya penghasilan sang agen atau setinggi apa posisi agen tersebut dalam dunia asuransi, dan seberapa sering agen ini mendapat penghargaan. Karena yang paling penting bagi konsumen sebagai nasabah yaitu adalah “agent with a heart”. Agen yang peduli, memiliki hati dan waktu untuk nasabahnya. Tidak banyak agen yang seperti ini. Beruntungnya, klaimku.com menemukan dua orang “agent with a heart” ini dari jutaan agen asuransi yang ada di Indonesia.

Baca juga : Gandeng BTN, Zurich Sasar Segmen UMKM Dan TKI Untuk Produk Asuransi Terbarunya

Malam itu (5/2/18) klaimku.com melakukan kunjungan pada seorang nasabah Prudential, yaitu seorang ibu dengan tiga orang anak yang saat ini tetap tabah dan tegar merawat dan menemani suaminya (yang juga merupakan nasabah Prudential) melawan penyakit stroke hemoragik sejak 2 bulan lalu. Bermula dari Desember 2017 lalu, ketika Bapak “H” tiba-tiba terserang stroke yang mengharuskannya dioperasi untuk menyelamatkan pembuluh darah yang pecah di otak.

 

 

Belum juga sadar setelah dioperasi dan dirawat di ICU, sang istri kemudian memutar otak bagaimana caranya klaim ke asuransi Prudential yang dimiliki suaminya. Dengan tidak mengetahui siapa agen asuransi yang dapat membantu proses klaim, sang istri mencari tahu dengan membuka daftar kontak HP suaminya dan menemukan nama “Ivan Prudential” yang langsung ia hubungi.

Ivan dan istrinya Marcella yang sama-sama adalah Agen Prudential kemudian langsung datang ke Rumah Sakit tempat “H” dirawat dan membantu proses klaim, investigasi, juga menemui dokter dan meluruskan kesalahpahaman asuransi dengan pihak RS sampai akhirnya klaim penyakit kritis sebesar kurang lebih Rp 900juta cair dalam waktu kurang dari satu bulan.

Baca juga : Big Bad Wolf (Part 2)

Bukan hal yang istimewa jika Ivan dan Marcella mau membantu nasabah yang memang membeli polis asuransi melalui mereka. Namun pada kasus ini ternyata diketahui Bapak “H” membeli polis asuransi melalui agen lain, meskipun sebelumnya sudah lebih dulu ditawarkan oleh Ivan dan tidak membeli melalui Ivan dan Marcella. 

Jika agen asuransi lain memperlihatkan kemewahan dengan rumah dan mobil mewah, kami justru menemukan hal yang sangat berbeda pada Ivan dan Marcella yang lebih menonjolkan kesederhanaan. Mereka datang hanya menggunakan motor, juga tidak berkeberatan ketika dibawa berjalan melewati gang sempit dan gelap. Inilah yang istimewa yaitu “agent with a heart“, yang didorong oleh rasa kemanusiaan, bukan sekedar memperhitungkan komisi dan keuntungan.

Menurut Ivan dan Marcella, menjadi agen asuransi bukan hanya sekedar untuk mencari komisi, tetapi bagaimana menjadi berkat dan membantu orang lain untuk mendapatkan jaminan dan proteksi. Demikianlah menurut Marcella dan Ivan didikan yang ditanamkan kantor agency tempatnya bernaung untuk selalu membantu nasabah dan menjadi berkat. 

Tidak banyak di luar sana agen-agen asuransi yang juga memiliki hati untuk melayani seperti Ivan dan Marcella. Mereka hanya dua dari segelintir agen asuransi dengan hati tulus yang  mau menolong nasabah meskipun tidak mendapatkan komisi dari premi setoran nasabah. Mungkin malah membuang waktu, uang dan tenaga. Tetapi kembali lagi, seperti yang dikatakan langsung oleh Ivan saat kami wawancara: sebagai agen asuransi masa bekerja mereka adalah pada saat nasabah membutuhkan pertolongan, bukan pada saat closing. Semoga kisah Ivan dan Marcella ini dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi jutaan agen asuransi diluar sana untuk dapat melayani dengan sepenuh hati sebagai agen asuransi.

Hubungi klaimku.com jika Anda memiliki kesaksian agen lainnya untuk kami liput secara gratis.

About The Author

Related posts

Responsive WordPress Theme Freetheme wordpress magazine responsive freetheme wordpress news responsive freeWORDPRESS PLUGIN PREMIUM FREEDownload theme free