Asuransi dalam Financial Technology (FinTech)

Kata-kata “FinTech” menjadi trend yang didengungkan para praktisi dan pelaku keuangan nasional kepada masyarakat. Sayangnya banyak masyarakat awam yang tidak mengerti mengenai arti dan peranan FinTech di dalam industri keuangan dan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

FinTech adalah singkatan dari Financial Technology yang artinya teknologi dalam keuangan, dimana perkembangan teknologi secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi industri keuangan dari jaman ke jaman. Mau atau tidak mau, siapa atau tidak siap seluruh masyarakat akan merangkul dan dirangkul oleh perkembangan teknologi yang terjadi di masyarakat. Mereka yang peka dan cepat tanggap bisa memetik keuntungan dari FinTech.

  1. Teknologi Pembayaran (Payment systems)

Perkembangan teknologi sangat terasa dalam sistem pembayaran. Zaman dahulu untuk pembayaran atas transaksi perdagangan manusia mengunakan hasil bumi dengan cara barter. Kemudian zaman berkembang digunakannya emas sebagai alat pembayaran. Kemajuan zaman mengganti pengunaan emas menjadi uang kertas sebagai alat pembayaran. Zaman sekarang sudah mengunakan kartu debit dan kredit sebagai alat pembayaran dan uang digital melalui transfer bahkan muncul “bitcoin” mata uang digital (crypto-currency) yang dihasilkan dengan cara mining (menambang). Perusahaan asuransi selalu menyesuaikan dan memberikan kemudahan kepada konsumennya dalam penerimaan alat pembayaran dimana perusahaan asuransi menerima uang kertas maupun uang digital secara transfer ke rekening bank perusahaan asuransi. Kedepannya, uang akan dimuat dalam chips yang disesuaikan dengan biometric ke masing-masing konsumen seperti yang ada dalam nubuatan kitab suci.

Baca juga Ingin Hidup Lebih Terjamin? Miliki Lima Jenis Produk Asuransi Ini

  1. Teknologi penjualan (Sales Process)

Dahulu penjualan asuransi awalnya dilakukan dari penawaran oleh agen asuransi dari penjualan door to door (perorangan). Seiring berkembangnya zaman, dengan terciptanya telepon, para agen asuransi mulai melakukan proses penjualan melalui telepon dengan cara cold-calling/ telemarketing seperti yang sering dilakukan oleh Cigna dan AIG yang sangat gencar dengan cara penjualan melalui telemarketing dimana pembicaraan dan persetujuan pembelian direkam dan dilakukan melalui komunikasi telepon. Zaman sekarang bahkan penjualan dilakukan melalui komputer, tablet dan smartphone secara online ke website perusahaan asuransi dan tidak membutuhkan tandatangan konsumen, seperti yang dilakukan oleh Jagadiri. Canggihnya teknologi juga membantu para agen asuransi untuk menyimpan data nasabah secara online dan melakukan profiling penjualan sesuai kebutuhan masing-masing nasabah.

  1. Teknologi Investasi (Investment benefit)

Canggihnya teknologi juga berdampak positif dan membantu perusahaan asuransi dalam menginvestasikan dana nasabah dalam instrumen keuangan seperti saham, obligasi dan money market yang sesuai dengan kondisi pasar. Peringatan dini dan stop loss juga menjadi fitur baru yang ditawarkan perusahaan Asuransi Generali melalui program ARMS (Automated Risk Management System), dimana nasabah dapat menyetel batas atas dan batas bawah untuk melakukan penjualan otomatis terhadap hasil investasi dalam produk asuransi unit link. Beberapa fitur yang ditawarkan oleh Asuransi Generali adalah “Auto Balancing” yang secara otomatis mengatur komposisi investasi dari waktu ke waktu; juga “Auto Trading” dimana secara otomatis akan terjadi penjualan investasi ketika batas atas atau batas bawah terpenuhi sehingga keputusan transaksi berdasarkan logika dan bukan “Human Emotion”. Melalui smartphone, nasabah dapat melakukan perubahan komposisi porsi investasi untuk mencapai keseimbangan keuntungan yang maksimal sesuai profil resiko investasi masing-masing nasabah sehingga menghilangkan proses yang berbelit-belit dan memakan waktu yang sebelumnya dilakukan melalui proses pengajuan perubahan secara surat yang dilakukan di beberapa perusahaan asuransi lainnya yang belum mengadopsi teknologi ini.

Baca juga Jangan Panik! Begini Cara Klaim Asuransi Mobil

Perusahaan asuransi di Indonesia masih lambat dalam mengadopsi kemajuan teknologi dibandingkan negara-negara maju lainnya seperti Jepang dan Amerika karena terkendala oleh infrastruktur yang lambat pula diterapkan. Lambatnya jaringan internet dan kurangnya investasi dalam pengembangan infrastruktur membuat Indonesia lebih lambat dibandingkan negara lain. Tetapi secara garis besar Indonesia sudah ada kemajuan termasuk adanya dorongan dari pemerintah seperti dibentuknya BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) yang langsung dibawah pantauan Presiden dengan tujuan memajukan ekonomi Indonesia melalui cara yang kreatif dan mengunakan kemajuan teknologi secara maksimal.

Baca juga Perusahaan Asuransi: Terlalu Banyak Klaim, Apakah Bisa Bangkrut?

Perubahan apalagi yang akan terjadi dalam bidang asuransi? Hendaklah kita mengikuti perkembangan zaman agar dapat mengambil keuntungan secara maksimal di bidang asuransi. Apapun itu bentuk perkembangannya, dapat dipastikan asuransi akan selalu menjadi bagian dalam kehidupan keuangan masyarakat Indonesia.

Salam Cerdas Keuangan,

 

Richard Wong, CFM

Praktisi dan Pengamat Keuangan Profesional

About The Author

Related posts

Responsive WordPress Theme Freetheme wordpress magazine responsive freetheme wordpress news responsive freeWORDPRESS PLUGIN PREMIUM FREEDownload theme free