Kisah Nyata Derita Korban Allianz

“Sudah jatuh tertimpa tangga” terasa kurang berat bagi penderitaan yang dihadapi oleh keluarga Alm. Bapak Belki. Tertimpa tangga masih belum terlalu sakit dan tidak berat dibandingkan apa yang harus dihadapi oleh Keluarga Bapak Belki Sukiyo korban oknum Allianz. 

Pada tanggal 28 Sept 2016, keluarga Alm. Belki Sukiyo membeli 4 polis Asuransi Allianz (bukti polis terlampir) untuk seluruh anggota keluarganya karena percaya terhadap Allianz dan Feronika (Agen Allianz). Waktu berjalan dan 14 Februari 2017 musibah pertama hadir, Bapak Belki terkena penyakit yang tidak diketahui penyebabnya sehingga membuat beliau mengalami “penurunan kesadaran” dan diharuskan dirawat inap di rumah sakit.

Berjalannya waktu datanglah musibah kedua, terjadi komplikasi dan mengharuskan Bapak Belki di operasi dengan dilubangi tenggorokannya agar bisa bernafas dengan bantuan alat pernafasan. Ratusan juta rupiah keluar dari kantong keluarga Bapak Belki karena 4x keluar masuk rumah sakit dari RS Lampung hingga Siloam Karawaci, sehingga membuat kesulitan keuangan keluarga beliau yang memiliki 2 anak yang masih kecil.

Karena memiliki polis asuransi di Prudential dan Allianz maka diajukanlah klaim asuransi rawat inap ke kedua perusahaan asuransi tersebut. Prudential dengan segera mentransfer dana klaim untuk seluruh klaim yang diajukan dan membayar pula untuk cashless biaya rumah sakit tanpa mempersulit keadaan Bapak Belki yang tengah dirawat dan dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan alat “Life Support“.

Baca juga : Lagi-Lagi Kasus Allianz: Agen Allianz Dilaporkan ke Polda Akibat Dana Klaim Nasabah Diduga Digelapkan

Musibah ketiga datang ketika berbeda 180 derajat dengan Prudential, perlakuan Allianz yang dengan segera menolak pengajuan klaim Bapak Belki. Untuk klaim rawat inap ditolak dengan alasan belum lewat masa tunggu 1 tahun untuk pengajuan penyakit khusus karena ada 1 diagnosa dokter mengatakan bahwa Bapak Belki terkena stroke (penyakit khusus yang membutuhkan masa tunggu 1 tahun). Bapak Belki yang dirawat di 4 RS berbeda dari dokter RS memberikan diagnosa yang berbeda-beda. Karena ada diagnosa stroke maka keluarga Bapak Belki mengajukan klaim penyakit kritis karena sudah lewat 3 bulan masa tunggu. Tetapi klaim kritis kembali ditolak karena Allianz mengatakan tidak ada stroke, karena hasil MRI tidak menunjukkan penyempitan pembuluh darah di otak sehingga menurut Allianz tidak ada bukti terjadi stroke.

Mendapat penolakan klaim dari Allianz, maka seorang ibu pendeta IFGF Karawaci menyarankan istri Bapak Belki untuk menghubungi saya Alvin Lim, selaku advokat yang memang memiliki spesialisasi di bidang asuransi. Saya kemudian melakukan langkah hukum mulai dari somasi ke Allianz hingga menyebarluaskan berita ini ke media sosial. Sayangnya Allianz tidak pernah membalas somasi nasabah dan tidak ada etika untuk menghubungi nasabahnya sendiri. Juga saya mengajukan komplain resmi ke AAJI dengan tembusan ke Allianz atas pelanggaran etik yang dilakukan oleh Agen Allianz yang diduga melakukan proxy / mappingan.

Sang agen mengunakan identitas keluarga untuk menjadi double agen di Allianz karena namanya masih terdaftar di Prudential. Hal ini merupakan pelanggaran berat kode etik agen yang ingin menjual produk 2 perusahaan secara bersamaan karena faktanya hanya satu orang yang melakukan penjualan polis Prudential dan Allianz terhadap keluarga Bapak Belki.

Mirisnya teguran dan komplain ke AAJI dan Allianz tidak pernah ditanggapi. Berita miring pun malah menerpa keluarga Bapak Belki yang dituduh malah berusaha mencari keuntungan dengan sakit dirawat hingga 4x, dianggap dugaan fraud dan mau menggemplang perusahaan asuransi. 

Di Allianz apabila nasabah klaim lebih dari 2x masuk indikator lampu merah / red flag untuk kemungkinan penipuan sehingga proses klaim akan diperlambat dan dipersulit dengan alasan ada investigasi yang tidak jelas tujuannya dan diduga hanya upaya untuk menghindari pembayaran klaim. Ironisnya apabila Allianz menuduh nasabah mencoba mencari keuntungan tetapi kenyataannya Allianz lah yang setiap tahun mendapatkan untung ratusan miliar dan terpampang jelas di koran dan brosur Allianz untuk pamer dan iming-iming kekuatan keuangan Allianz. Ini maling teriak maling.

Stress dan putus asa karena tidak ada biaya (tidak dibayarkannya klaim asuransi Allianz) untuk melanjutkan rawat inap di RS maka keluarga Bapak Belki memutuskan untuk merawat dirumah. Karena tidak adanya pengetahuan medis dan tidak layaknya peralatan medis maka di Bulan Juli 2017, datanglah musibah keempat, Bapak Belki meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri dan 2 anak yang masih kecil.

Mengetahui maraknya berita Facebook yang diviralkan oleh page LQ Indonesia Lawfirm, maka Allianz dengan segera membayarkan klaim yang semula TELAH DITOLAK karena tidak ingin ada imbas citra jelek ke Allianz. 

Klaim meninggal dan kritis ditransfer Allianz ke rekening atas nama sang istri, tetapi klaim kesehatan/rawat inap ditransfer ke rekening atas nama Bapak Belki. Di bulan Juli 2017, Prudential dan Allianz ada mentransfer uang klaim rawat inap ke rekening BCA Bapak Belki. Karena jumlah dana klaim diatas Rp 50juta, maka BCA mengharuskan nasabah untuk memberikan surat kematian dan surat waris sebagai syarat penarikan uang dari rekening bank Alm. Bapak Belki.

Dibuatlah surat waris pada Bulan Desember 2017. Kemudian di Bulan Januari 2018 ketika istri Alm. Bapak Belki ke BCA dan ingin menarik dana terkejutlah karena terjadi musibah kelima, uang klaim tersebut sudah lenyap dan ditransfer dari rekening BCA Bapak Belki ke rekening atas nama Feronika (nama Agen Allianz) melalui ATM.

Keterangan dari Jovita, customer service BCA bahwa tanggal 18 Januari 2018, ada seorang laki-laki yang mengaku bernama Bapak Belki dan memberikan KTP dan data pribadi Bapak Belki ke BCA cabang Alam Sutera dan melakukan penggantian ATM. Setelah ada kartu ATM, oknum tersebut melakukan penarikan tunai dan mentransfer dana ke rek atas nama Feronika (nama Agen Allianz yang tertera di buku polis).

Baca juga : Allianz Pidanakan LAGI Nasabahnya Sendiri

Terkejut dan kecewa berat maka dengan putus asa, istri Alm. Bapak Belki menghubungi dan memberikan surat kuasa kepada saya untuk mengambil langkah hukum. Pentransferan bisa dilakukan karena diduga ada pemalsuan dan penggelapan oleh Feronika (nama oknum Agen Allianz yang tertera di buku polis). Pemalsuan dimungkinan karena ketika pengajuan nasabah menyerahkan seluruh data pribadi termasuk copy KTP dan KK. Oknum Allianz ini diduga membuat KTP palsu untuk membobol rekening bank nasabah yang sudah meninggal. Apabila terbukti sangat miris jika Allianz menjadi sarang kriminal dengan banyak laporan polisi dan kasus pidana yang melibatkan direktur utama, manajer dan bahkan sekarang Agen Allianz. Biar nanti polisi membuktikan dari laporan polisi ini siapa saja yang terbukti dan terlibat didalam tubuh Allianz.

“Saya sangat kecewa dengan kejadian penggelapan ini. Awal klaim saya dipersulit oleh bagian klaim Allianz, setelah klaim dibayarkan Allianz, uang tersebut dicuri oleh Agen Allianz” kata Ibu Wiwih, istri Alm. Bapak Belki. “Saya tidak tahu harus gimana, saya serahkan kepada pak Alvin semuanya.”

Tentunya pelaku utama yang secara langsung melakukan pidana adalah Feronika yang namanya tertera sebagai Agen Allianz penjual. Tetapi Perusahaan Allianz adalah penyebab tidak langsung terjadinya kriminalitas ini, dikarenakan apabila Allianz tidak merekrut Feronika maka kejadian pengelapan dana klaim ini tidak mungkin terjadi. Apalagi di Bulan Juli kami selaku Advokat TELAH mengirimkan surat komplain adanya pelanggaran kode etis tetapi tidak digubris oleh Allianz. (Copy surat komplain terlampir). Tentunya dengan kejadian penggelapan ini Allianz tidak mungkin mau bertanggung jawab dan akan melemparkan kesalahan 100% kepada Agen Allianz.

Ingatkah dengan kasus klaim Dul (Anak Ahmad Dhani) yang ditolak klaim rawat inap karena tidak ada SIM? Semua perusahaan asuransi akan menolak klaim nasabah apabila terjadi kecelakaan tanpa memiliki SIM, dengan alasan ketika orang tidak memiliki SIM seharusnya tidak berkendara. Dan apabila tidak berkendara maka kecelakaan tidak akan terjadi (prinsip sebab akibat). Maka dengan analogi yang sama saya berani mengatakan bahwa apabila Allianz tidak merekrut agen kriminal secara sembarangan maka penggelapan ini tidak mungkin terjadi.

Baca juga : Ditipu Rp200 juta, Calon Nasabah Laporkan Agen Asuransi

Allianz diduga dengan serampangan merekrut leader-leader dan agen-agen Prudential yang masih aktif di Prudential dan diduga tutup mata dengan membiarkan para Agen Prudential tersebut memakai nama mappingan / proxy (nama keluarga atau teman mereka padahal yang melakukan penjualan adalah satu orang yang sama). Allianz dan AAJI tahu ini (Saya telah mengirimkan surat komplain Juli 2017 mengenai kondisi ini) tetapi tidak ada tindakan apapun. Mengapa? Karena Allianz dan AAJI memperoleh keuntungan material dari penambahan agen bayangan/palsu ini.

AAJI mengenakan tarif kurang lebih Rp 225ribu per orang untuk mengikuti ujian AAJI. Apabila ada 10 ribu agen saja maka sudah Rp 2.25 miliar yg diperoleh dari biaya ujian AAJI. Belum setiap tahunnya ada biaya renewal ijin yang dinamakan CPD. Bisa dibayangkan mengapa AAJI sangat menjaga dan membela Allianz bahkan di kasus pidana yang menerpa Allianz.

 

Juga Allianz seharusnya menjaga kerahasiaan data nasabah. Ketika pengajuan polis, nasabah dengan polosnya memberikan fotokopi KTP, KK dan data pribadi lainnya di form SPAJ (Surat Pengajuan Asuransi Jiwa). Di KK (Kartu Keluarga) tertera nama ibu kandung nasabah sehingga semua data yang diperlukan untuk membobol rekening bank nasabah sudah dimiliki oleh Allianz dan Agen Allianz. Atas kasus ini kami sudah melaporkan ke kepolisian atas pasal pemalsuan dan penggelapan terhadap Feronika, dkk.

Dengan selalu munculnya kasus baru Allianz, sekali lagi saya selaku advokat dan penegak hukum menghimbau agar masyarakat menghindari bertransaksi dengan Allianz dengan alasan sebagai berikut:

1. Allianz hobi berkasus sudah ada total 8 Laporan Polisi berkaitan dengan Allianz dalam 6 bulan terakhir.

2. Allianz arogan dan tidak ada respek terhadap komplain nasabah. Ketika nasabah dan saya datang ke kantor pusat Allianz bagian klaim tidak mau turun dan malah suruh kami lapor polisi saja.

3. Allianz akan mencari-cari kesalahan nasabah dan akan melaporkan balik apabila Allianz di proses secara hukum. MSW nasabah Allianz yang melaporkan Allianz ke polda malah dilaporkan balik padahal klaim nasabah sama sekali belum dibayar. Allianz sanggup membayar pengacara mahal dan hebat seperti Lucas SH (pemberitaan di media adalah mantan pengacara Setya Novanto) yang sekarang berhadapan dengan kami.

4. Allianz tidak segan melabel nasabahnya sebagai kriminal dan penggemplang asuransi apabila nasabah klaim diatas 2x. Banyak nasabah dengan klaim diatas 2x tidak dibayarkan yang melaporkan ke kantor hukum kami.

5. Keputusan Allianz seperti keputusan dewa yang tidak bisa diganggu gugat dan HARUS dipatuhi nasabahnya walau berbeda atau tidak ada di ketentuan buku polis.

6. Allianz adalah perusahaan yang tidak taat hukum dan meminta nasabah melanggar hukum sebagai syarat klaim dibayarkan. Pada kasus Ifranius dan Indah Goena, Allianz mengharuskan permintaan rekam medis lengkap yg melanggar hukum sebagai syarat pengajuan klaim.

7. Allianz diduga hanyalah perusahaan yang mementingkan PROFIT dan tidak peduli terhadap nasabahnya. Kasus Bapak Belki, seharusnya sebelum penolakan Allianz terjun langsung ke lapangan dan memeriksa fakta lapangan dan bukan hanya menolak dengan melihat kertas saja. Allianz tidak peduli apabila keluarga Anda sakit atau mati, nasabah bagi mereka hanyalah angka keuangan.

8. Allianz tidak segan-segan me-MANTAN kan Direktur Utama dan Manajer Klaim ketika sudah jadi tersangka atau berkasus pidana seperti yang terjadi pada Manajer Klaim dr. Yuliana dan Direktur Utama Joachim Wessling. Apabila manajer klaim yang hanya menuruti perintah direksi saja dapat seenaknya di mantankan, apalagi anda nasabah?

9. Selama agen membawa keuntungan mereka akan tutup mata terhadap agen ber-proxy. Bahkan leader terbesar Prudential tidak segan-segan diberikan program buy out untuk pindah ke Allianz. Tetapi Allianz tidak pernah berpikir akibatnya terhadap kualitas agen ber-proxy. Agen ber-proxy hanya memikirkan kepentingan materi dan bukan kebutuhan nasabah.

10. Allianz tidak melakukan prosedur kehati-hatian dan lalai dalam menjaga kerahasiaan data nasabah yang semestinya menjadi tanggung jawab Allianz selaku penanggung. Agen adalah kepanjangan tangan Allianz. Allianz berkewajiban melakukan pencegahan terjadi bocornya data nasabah seperti dalam kasus Bapak Belki.”

 

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, apabila induk perusahaan banyak berkasus pidana maka tidak heran agen-agen, pegawai dan direksinya juga berkasus kriminal. 

Allianz dalam melaporkan balik nasabahnya menuduh nasabah melakukan pemalsuan KTP dan dokumen lainnya. Kenyataan adanya kasus ini diduga malah Agen Allianz Feronika yang terjerat pemalsuan. 

Keputusan ditangan Anda, apabila Anda siap mental untuk berkasus dengan Allianz silahkan beli polis di Allianz. Tetapi kami harus menghimbau bahwa semua nasabah yang melaporkan perkara ke kantor hukum kami menyesal menjadi nasabah Allianz. Banyak perusahaan asuransi baik lainnya seperti Prudential, Chubb, ACA, Zurich, dll mengapa harus memilih asuransi yang berkasus? Sudah jelas kisah nyata tentang Allianz ini dan sudah banyak memakan korban, siapkah anda jadi korban berikutnya? 

Bagi korban Allianz lainnya, harap jangan takut dan melapor ke kantor hukum kami melalui email lqindolawfirm@gmail.com
Para korban Allianz meminta agar kepolisian khususnya Polda Metro Jaya segera mengusut kasus-kasus dan menindak para oknum yang terlibat dalam tubuh Allianz. Terima kasih atas kerja keras penyidik dan perwira Krimsus Polda Metro Jaya yang sudah profesional. 

Hormat kami,
Advokat Alvin Lim, SH, MSc, CFP
Kuasa hukum para korban Allianz

Responsive WordPress Theme Freetheme wordpress magazine responsive freetheme wordpress news responsive freeWORDPRESS PLUGIN PREMIUM FREEDownload theme free