December 14, 2017

Perusahaan Asuransi: Terlalu Banyak Klaim, Apakah Bisa Bangkrut?

klaimku.com – Asuransi dapat dijelaskan melalui banyak hal, dapat secara detail atau secara sederhana. Jika dijelaskan secara sederhana, maka asuransi dapat dikatakan seperti “arisan” dimana perusahaan asuransi mengumpulkan uang premi dari para nasabah yang tergabung, dan hasil pengumpulan premi tersebut digunakan sebagai pembayaran resiko yang terjadi jika salah satu nasabah mengalami resiko kehidupan (PK3/ Penyakit, Kematian, Kecelakaan dan Kemiskinan).

Selain digunakan untuk pembayaran saat anggota asuransi jatuh sakit, uang premi yang dikumpulkan oleh perusahaan asuransi juga digunakan untuk kegiatan operasional dan administratif perusahaan asuransi. Akan tetapi jika demikian akankah perusahaan asuransi akan mengalami kolaps jika pada suatu saat yang bersamaan para nasabahnya jatuh sakit bahkan meninggal dunia dan masing-masing nasabah menghabiskan biaya yang tidak sedikit jumlahnya? Tentu pemikiran seperti itu muncul di benak sebagian orang. Belum lagi kasus pidana perusahaan asuransi yang hangat dibicarakan, sehingga membuat sebagian orang takut untuk tergabung menjadi nasabah asuransi.

Dalam praktek bisnisnya, perusahaaan asuransi bukanlah satu-satunya perusahaan yang menanggung nasabah saat terjadi resiko kehidupan yang mengharuskan perusahaan asuransi membayar klaim yang diajukan. Ada perusahaan lain yang juga turut membantu apabila perusahaan asuransi yang membayar klaim nasabah mengalami kesulitan dalam membayar klaim. Perusahaan ini adalah perusahaan re-asuransi (re-as) yang merupakan institusi atau sebuah perusahaan penjamin apabila perusahaan asuransi kesulitan membayar klaim asuransi, terancam pailit, atau jika terjadi resiko lainnya pada perusahaan asuransi. Sehingga berapapun jumlah klaim yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada nasabahnya, atau apapun resiko yang dihadapi,  perusahaan tetap mampu bertahan dan tidak mengganggu biaya operasional dari perusahaan asuransi tersebut. Beberapa contoh perusahaan yang merupakan tipe perusahaan Re-Asuransi adalah PT. Maskapai Asuransi Indonesia, PT Reasuransi Internasional Indonesia, PT Reasuransi Indonesia, dan PT. Tugu Reasuransi Indonesia.

Peraturan tentang adanya perusahaaan Re-Asuransi di Indonesia tercantum dalam UU No. 02 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Yang dalam UU No. 02 tersebut di jelaskan bahwa “Perusahaan Re-Asuransi adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam pertanggungan ulang terhadap resiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi kerugian dan atau perusahaan asuransi jiwa.

 

gambar via traditionadvisers.com

 

Terdapat dua jenis re-asuransi, yaitu re-asuransi proporsional dan non-proporsional

  • Re-asuransi proporsional

Adalah re-asuransi dimana perusahaan re-asuransi mengambil alih risiko klaim secara proporsional berdasarkan klaimnya. Semisal jika telah ada perjanjian re-asuransi proporsional antara perusahaan asuransi dengan perusahaan re-asuransi sebesar 40%, maka jika terjadi klaim dari pemegang polis maka perusahaan asuransi hanya perlu mengeluarkan dana sebesar 60% dari jumlah klaim, sementara sisa 40% dari klaim akan ditanggung oleh perusahaan re-asuransi tersebut.

  • Re-asuransi non-proporsional

Biasanya perusahaan re-asuransi akan menanggung klaim di atas batas maksimal yang dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi. Misalnya jika perusahaan asuransi dan perusahaan re-asuransi telah membuat perjanjian untuk menanggung klaim di atas batas satu miliar, maka jika ada klaim sebesar 800 juta, perusahaan asuransi akan menanggung seluruh klaim yang diajukan tersebut. Sebaliknya jika terdapat klaim sebesar empat miliar, maka perusahaan asuransi hanya menanggung sesuai perjanjiannya, yaitu satu miliar dan sisanya akan ditanggung oleh perusahaan re-asuransi tersebut.

Perusahaan re-asuransi ini bukan diperuntukkan untuk nasabah perorangan seperti yang kita ketahui pada umumnya (seperti asuransi jiwa, kesehatan, dll). Dan tentu saja yang bisa mendaftar menjadi nasabah re-asuransi hanya perusahaan asuransi yang mengasuransikan nasabah perorangan (misalnya asuransi jiwa, asuransi kendaraan, asuransi pendidikan, dll).