Waspada Celaka Di Tempat Wisata, Siapa Paling Bertanggung Jawab?

Akhir pekan yang panjang seringkali dimanfaatkan sebagai waktu liburan singkat bagi sebagian orang. Tak heran pada masa-masa itu tempat-tempat wisata akan penuh dijejali orang-orang yang telah lelah melakukan rutinitas harian. Sebagai manusia, kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi bahkan satu detik kedepan. Resiko kehidupan akan selalu dihadapi selama manusia hidup. Termasuk salah satunya resiko saat berada di tempat wisata.

Insiden-insiden di tempat wisata bukan hanya sekali terjadi. Ingatkah Anda tragedi robohnya jembatan di tempat wisata Penangkaran Rusa Cariu di Bogor yang mengakibatkan 30 orang luka-luka Januari lalu? Atau insiden maut di Objek Wisata Guciku yang menewaskan 1 orang pengunjung setelah tersedot ke dalam lubang saluran pembuangan pada Desember 2017?

Baca juga Prudential Indonesia Serahkan Donasi Rp 4,5 Miliar Untuk RS Kanker Dharmais

Pada dasarnya, keamanan pada saat berwisata ke tempat destinasi ini menyangkut hak dan kewajiban para pihak di dalamnya untuk menjaga kondisi tetap aman dan nyaman. Wisatawan berhak mendapat perlindungan hukum, keamanan serta asuransi. Sementara itu, pengusaha pariwisata juga berkewajiban memberikan kenyamanan, perlindungan, dan keselamatan wisatawan serta memberikan asuransi pada usaha pariwisata dengan kegiatan yang beresiko tinggi.

Usaha pariwisata dengan kegiatan beresiko tinggi ini menurut Pasal 26 huruf e UU Kepariwisataan antara lain wisata selam, arung jeram, panjat tebing, permainan jet coaster, dan kunjungan objek tertentu seperti misalnya melihat satwa liar di alam bebas. Oleh karena itu pada tempat-tempat wisata tertentu, dibebankan biaya asuransi pada pengunjung yang biasanya pembayarannya telah termasuk pada tiket masuk pada saat akan berwisata. “premi asuransi” yang dibayarkan oleh pengunjungpun tidak mahal. Contohnya kebun binatang ragunan mengalokasikan Rp 500 dari harga tiket, begitu juga tempat wisata di DIY dan Pacitan yang mengalokasikan hanya Rp 200 dari harga tiket.

Baca juga: Proteksi Kehilangan dan Rusak Fisik Pada Smartphone Seharga Rp 100 ribu, Mau?

Umumnya, pengelola tempat wisata ini juga mengasuransikan resiko atas pengunjung pada pihak ketiga (dalam hal ini perusahaan asuransi). Hal ini merupakan hal yang serius, karena jika pengelola lalai, maka dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis, pembatasan kegiatan usaha, atau pembekuan sementara kegiatan usaha (diatur dalam pasal 63 UU Kepariwisataan). Namun sayangnya, hal ini belum dijelaskan secara mendetil dalam Peraturan Pemerintah meskipun UU Kepariwisataan telah mengatur hak dan kewajiban terkait keselamatan para wisatawan.

Baca juga: Jackie Chan : “ Tidak Ada Perusahaan Asuransi Yang Mau Saya dan Team Saya Menjadi Nasabahnya”

Memang hal-hal terkait keselamatan wisatawan telah dijamin oleh pengelola tempat wisata dan diatur oleh pemerintah Indonesia meskipun belum sempurna sepenuhnya. Dari “premi asuransi” yang hanya berkisar Rp 200 sampai Rp 500 yang dialokasikan dari harga tiket, kita juga tidak bisa berharap banyak. Seperti Objek Wisata Pacitan yang memberikan santunan Rp 5 juta jika terjadi kecelakaan atau meninggal dunia dari “premi” sebesar Rp 200. Maka dari itu, tanggung jawab akan keamanan dan keselamatan kita akan berbagai resiko sebenarnya kembali lagi pada diri kita sendiri. Dengan memiliki asuransi pribadi, kita dapat dengan lebih tenang menghadapi resiko-resiko tersebut.

Asuransi janganlah dipandang sebagai proteksi akan kesehatan atau kecelakaan. Tetapi lebih kepada proteksi akan resiko melemahnya kondisi keuangan akibat resiko lainnya seperti kecelakaan, kehilangan, atau sakit. Yuk berasuransi!

About The Author

Related posts

Responsive WordPress Theme Freetheme wordpress magazine responsive freetheme wordpress news responsive freeWORDPRESS PLUGIN PREMIUM FREEDownload theme free